Perjalanan Panjang Karier Ari Lasso: Dari Nostalgia ke Panggung Modern

Nama Ari Lasso sudah lama melekat di ingatan penikmat musik Indonesia sebagai salah satu suara paling ikonik yang pernah lahir di negeri ini.
Dari era kaset dan CD bersama Dewa 19, hingga era digital dan panggung megakonser hari ini, perjalanan kariernya adalah kisah tentang jatuh, bangkit,
dan bertahan di puncak.

Di tengah derasnya musisi baru dan tren musik yang terus bergeser, Ari Lasso berhasil menjaga satu hal yang paling penting:
lagu-lagunya tetap dinyanyikan lintas generasi.

Dari Madiun ke Dewa 19: Lahirnya Suara Legenda

Ari Bernardus Lasso lahir di Madiun, Jawa Timur, 17 Januari 1973. Sejak SMA di Surabaya, ia sudah aktif bermusik dan kemudian bergabung dengan band
yang kelak menjadi salah satu legenda: Dewa 19.

Bersama Dewa 19, Ari terlibat dalam empat album studio yang kini berstatus klasik:

  • Dewa 19 (1992)
  • Format Masa Depan (1994)
  • Terbaik Terbaik (1995)
  • Pandawa Lima (1997)

Dari sinilah lahir lagu-lagu seperti “Kangen”, “Cukup Siti Nurbaya”, “Cinta ’Kan Membawamu Kembali”,
dan “Kamulah Satu-Satunya” yang menegaskan vokal Ari sebagai salah satu suara paling berkarakter di musik Indonesia.

Namun di puncak kesuksesan itu, masalah pribadi mulai datang. Ari bergulat dengan kecanduan narkoba hingga akhirnya memutuskan keluar dari Dewa 19
sekitar akhir 1990-an dan menjalani masa rehabilitasi yang tidak singkat.

Jatuh, Rehabilitasi, Lalu Bangkit: Era Sendiri Dulu

Setelah masa sulit dan proses pemulihan, Ari Lasso kembali ke dunia musik bukan sebagai vokalis band, tetapi sebagai solois.
Tahun 2001 ia merilis album solo debut berjudul Sendiri Dulu, yang berisi lagu-lagu dengan hits seperti
“Misteri Ilahi”, “Nelangsa”, “Penjaga Hati”, dan “Perbedaan”.

Album ini menjadi titik balik besar:

  • Menandai kebangkitannya setelah keluar dari Dewa 19.
  • Menegaskan bahwa Ari bisa berdiri sendiri sebagai penyanyi solo.
  • Menjadi salah satu album pop Indonesia paling berpengaruh di awal 2000-an.

Keberhasilan Sendiri Dulu membuka jalan bagi sederet album solo berikutnya:

  • Keseimbangan (2003)
  • Kulihat, Kudengar, Kurasa (2004)
  • Selalu Ada (2006)

Di fase ini, lagu-lagu seperti “Hampa”, “Rahasia Perempuan”, “Cinta Terakhir”, dan
“Mengejar Matahari” mengukuhkan Ari sebagai ikon solois pop-rock yang kuat, bukan hanya “mantan vokalis Dewa 19”.

Kompilasi Hits & Era Juri Ajang Bakat

Memasuki akhir 2000-an, Ari merilis kompilasi The Best of Ari Lasso (2007) dan album greatest hits
Yang Terbaik (2012). Menariknya, Yang Terbaik didistribusikan secara eksklusif lewat gerai KFC di seluruh Indonesia
— sebuah strategi yang kala itu cukup inovatif untuk album fisik.

Di luar studio, Ari juga semakin sering tampil di televisi dan menjadi juri di berbagai ajang pencarian bakat seperti
Indonesian Idol dan The Voice Indonesia, membuat namanya akrab di telinga dan mata generasi baru.

Di titik ini, Ari Lasso berubah dari sekadar penyanyi menjadi figur publik musik:

  • Penyanyi solo dengan katalog hits kuat.
  • Figur nostalgia bagi generasi 90-an.
  • Mentor bagi penyanyi-penyanyi muda di era baru.
Nostalgia yang Terus Hidup: Comeback Bersama Dewa 19

Meski pernah berpisah karena berbagai konflik dan masalah personal, hubungan Ari dengan Dewa 19 pelan-pelan kembali cair.
Seiring reunian dan tur nostalgia, Ari beberapa kali tampil kembali di panggung bersama band yang membesarkan namanya.

Pada 2022, Dewa 19 secara resmi mengumumkan Ari Lasso sebagai “senior vocalist”, berdampingan dengan Once, Virzha, dan Ello
untuk formasi panggung yang dinamis.

Ini menciptakan fenomena menarik:

  • Di satu sisi, Ari menjadi simbol nostalgia 90-an.
  • Di sisi lain, ia tampil di panggung-panggung super modern: stadium show, festival besar, hingga konser multi-vokal kekinian.

Penonton yang dulu membeli kaset Dewa 19 sekarang datang ke konser membawa anak, menyanyikan “Kangen” dan “Cinta ’Kan Membawamu Kembali”
bersama tiga generasi sekaligus.

Ari Lasso (Remastered 2024): Nostalgia Naik Kelas di Era Digital

Tahun 2024, perjalanan panjang Ari dirangkum dalam rilisan spesial Ari Lasso (Remastered 2024),
kumpulan lagu terbaik yang diremaster dengan kualitas audio baru dan juga dirilis dalam format vinyl.

Album ini berisi lagu-lagu ikonik seperti:

  • “Mengejar Matahari”
  • “Hampa”
  • “Perbedaan”
  • “Misteri Ilahi”
  • “Arti Cinta”
  • “Rahasia Perempuan”
  • “Aku dan Dirimu”
  • “Penjaga Hati”
  • “Cinta Terakhir”
  • “Cinta Sejati”

Remastering album ini digarap oleh Randy Merrill, sound engineer pemenang Grammy, sehingga karya-karya Ari terdengar lebih jernih,
detail, dan siap bersaing di era streaming dan perangkat audio modern.

Secara simbolis, album ini adalah:

jembatan antara nostalgia dan panggung modern — katalog lama, kualitas baru, dan audiens yang kini hidup di dunia digital.

Dari Nostalgia ke Panggung Modern: Mengapa Ari Lasso Masih Relevan?

Di tengah derasnya gelombang musisi baru dan tren musik yang cepat berubah, muncul satu pertanyaan sederhana:
mengapa Ari Lasso masih relevan?

Setidaknya ada beberapa alasan kuat:

1. Lagu-lagu yang Timeless

Tema cinta, kehilangan, harapan, dan pencarian diri dalam lagunya tidak terikat era.
“Hampa” dan “Misteri Ilahi” masih dinyanyikan di karaoke, media sosial, hingga setlist konser besar.

2. Suara yang Khas dan Mudah Dikenali

Vokal Ari punya karakter unik—serak, kuat, tapi emosional. Dalam ekosistem musik yang penuh suara serupa, ini adalah aset langka.

3. Berdamai dengan Masa Lalu, Tanpa Terjebak di Dalamnya

Ia tidak memungkiri masa kelam kecanduan dan kejatuhannya; sebaliknya, ia membangun narasi kebangkitan.
Kini, alih-alih hanya hidup dari nostalgia, ia meremajakan katalog lewat remaster, konser modern, dan tampil bersama formasi baru Dewa 19.

4. Hadir di Banyak Medium

Dari CD, radio, TV, hingga platform streaming dan media sosial—Ari selalu menemukan cara untuk hadir di kanal yang digunakan pendengarnya.

Penutup: Ari Lasso, Suara yang Menjembatani Generasi

Perjalanan panjang karier Ari Lasso adalah cerita tentang bagaimana musik bisa melewati waktu.
Ia memulai karier di era ketika “Kangen” diputar di radio dan kaset, jatuh di titik terendah hidup, bangkit lewat
Sendiri Dulu, memahat jejak sebagai solois, lalu kembali menduduki panggung besar bersama Dewa 19 dan melalui rilisan remastered di era digital.

Di tengah gegap gempita konser dan festival modern, satu hal tak berubah: ketika “Hampa”,
“Misteri Ilahi”, atau “Rahasia Perempuan” dinyanyikan, penonton masih ikut bernyanyi—bukan hanya karena lagu itu enak,
tapi karena di dalamnya, ada bagian kecil dari hidup mereka sendiri.

Itulah kekuatan Ari Lasso: dari nostalgia ke panggung modern, ia tetap menjadi suara yang menyatukan generasi.